SITUS BERITA, ILMU KOMPUTER, BLOGGING, KAJIAN ISLAM, CONTOH SURAT, CONTOH MAKALAH, CONTOH SKIRPSI DLL



Hai sobat semua'' berjumpa lagi dengan saya Muhammad Rusdi. Baiklah pada postingan kali ini saya akan membuat artikel tentang makalah Sejarah Pendidikan Islam, semoga artikel ini membantu sobat semua amin....






MAKALAH
SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM
Tentang
“Sejarah Pendidikan Islam Pada Periode Pertumbuhan Pendidikan Islam”



1
 


Oleh




Kelompok V
 M. Rusdi            409.272

Jamnisef                     409.189
Zeni Mardesnita        409.223
Septika Hasyani         409.229
Mike Aisyah               409.049


Dosen Pembimbing
Dr. Rehani, M. Ag

JURUSAN MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM (MPI)
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
IMAM BONJOL PADANG
T.A 2012 M/ 1433 H



KATA PENGANTAR


Assalamuilaikum wr.wb
Puji dan syukur diucapkan kepada Allah Swt, yang telah memberikan rahmat dan petunjuk-Nya, sehingga makalah ini dapat selesai dengan baik dan lancar. Shalawat dan Salam juga tidak lupa  diucapkan kepada Nabi Muhammad Saw, sebagai Uswah dalam kehidupan, juga kepada keluarga, dan pengikutnya sampai akhir zaman.

         Dalam penyelesaian makalah ini tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, terutama dosen pembimbing mata kuliah Sejarah Pendidikan Islam (SPI) yakni  Dr. Rehani, M. Ag, hingga selesainya makalah ini dengan baik. Untuk itu    diucapkan   terima kasih kepada beliau dan juga kepada semua pihak  yang telah berkonstribusi hingga terbitnya makalah ini.

         Sepenuhnya kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh kesempurnaan keilmiahannya, untuk itu sangat diharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun, sehingga kedepannya lebih baik lagi, sebelumnya  diucapkan terima kasih.
         Wassalamualaikum wr.wb


                                                                                   Padang, 24 Januari 2012



                                                                                          Pemakalah







DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………….....         .

DAFTAR ISI………………………………………….....        .

BAB  I        PENDAHULUAN ………………………..

BAB  II      PEMBAHASAN…………………………..
          2.1     Latar Belakang................................................
          2.2     Pengaruh Leninisasi Terhadap Perkembangan
                        Pemikiran Islam...............................................
         
BAB  III     PENUTUP
          3.1     Kesimpulan....................................................
          3.2     Saran............................................................


DAFTAR PUSTAKA



BAB  I
PENDAHULUAN

Mengkaji tentang lembaga-lembaga pendidikan Islam pada era awal, berarti melihat dari dekat berbagai komponen dan sistem serta metode yang digunakan dalam pelaksanaan pendidikan pada masa itu. Ditinjau dari kaca mata sejarah sebenarnya proses penciptaan lembaga pendidikan Islam tersebut sangatlah bersifat demokratis. Hal ini dapat kita lihat dalam proses penciptaan manusia pertama, misalnya Allah SWT telah melakukan dialog dan perdebatan lansung dengan makhluknya, yaitu Malaikat. Sebagai kompetensi dasar Allah SWT ajarkan bagi Nenek Moyang kita Nabi Adam AS, bermacam-macam nama benda. Di saat dilakukan ujian komprehensif antara Malaikat dan Nabi Adam AS oleh Allah SWT, Nabi Adam pada waktu itu dinyatakan berhasil menguasai kopetensi dasar dibandingkan Malaikat.
Proses itu berlanjut, dilaksanakan oleh Allah SWT dalam penyampaian wahyu kepada para Nabi dan Rasul-Nya di permukaan bumi ini. Walaupun pada saat itu, informasi data sejarah belum terungkap lembaga seperti apa yang digunakan oleh Allah SWT di waktu itu. Tetapi proses yang dilaksanakan melalui lembaga pendidikan tersebut telah berhasil melakukan change of knowledge dan change of value kepada peserta didiknya, yaitu para Nabi dan Rasul.
Melalui tulisan singkat ini kami akan mencoba membahas pada bab II lebih dalam bagaimana latar belakang lahirnya lembaga pendidikan Islam serta lembaga-lembaganya seperti Shuffah, Kuttab, Halaqah, Masjid, Perpustakaan, Majlis, Rumah-rumah Ulama, Rumah Sakit dan Badiah ( Padang Pasir, dusun tempat tinggal Badui ).










BAB  II
PEMBAHASAN

A.    Latar Belakang Berkembangnya Lembaga Pendidikan Islam
Masyarakat di luar Arab yang menerima Islam, pada umumnya telah hidup dalam suatu sistem budaya yang telah berkembang, melebihi perkembangan sistem budaya bangsa Arab pada masa turunnya Islam. Islam adalah agama fitrah, agama yang merupakan potensi dasar manusiawi dengan landasan petunjuk Allah. Pendidikan Islam berarti menumbuhkan dan mengembangkan porensi fitrah tersebut dan mewujudkan dalam sistem budaya manusia yang Islami pada masa pertumbuhan kebudayaan Islam, terjadi dialog yang seru antaraa prinsip-prinsip budaya Islami sebagimana yang terangkum dalam al- Quran dengan budaya yang telah berkembang pada masa itu. Bentuk konkritnya adalah timbulnya berbagai aliran dan mazhab dalam berbagai aspek budaya Islam.

Pendidikan Islam pada hakikatnya ialah proses mewariskan nilai budaya Islam kepada generasi muda dan mengembangkannya sehingga mencapai dan memberikan manfaat maksimal bagi hidup dan kehidupan manusia sesuai dengan tingkat perkembangannya, pendidikan Islam masa pada ini berarti penanaman secara luas nilai dan kebudayaan Islam agar tumbuh dangan suburnya dalam lingkungan yang lebih luas.

Masyarakat di luar Arab yang menerima Islam, pada umumnya telah hidup dalam suatu sistem budaya yang telah berkembang, melebihi perkembangan sistem budaya bangsa Arab pada masa turunnya Islam. Islam adalah agama fitrah, agama yang merupakan potensi dasar manusiawi dengan landasan petunjuk Allah. Pendidikan Islam berarti menumbuhkan dan mengembangkan porensi fitrah tersebut dan mewujudkan dalam sistem budaya manusia yang Islami pada masa pertumbuhan kebudayaan Islam, terjadi dialog yang seru antaraa prinsip-prinsip budaya Islami sebagimana yang terangkum dalam al- Quran dengan budaya yang telah berkembang pada masa itu. Bentuk konkritnya adalah timbulnya berbagai aliran dan mazhab dalam berbagai aspek budaya Islam.

Para sahabat mengalami masalah setelah Nabi Muhammad Saw wafat, seperti masalah siapa dan bagaimana menggantikannya. Sistim poitik dan kepemimpinan ini mengalami perubahan-perubahan pada masa-masa berikutnya dan berakhirnya dengan berhasilnya Muawiyah merebut kekuasaan dan memutuskan bahwa kekhalifahan adalah jabatan yang turun temurun.
Dengan berkembangnya sistim politik tersebut berkembang pula corak dan pola kehidupan masyarakat. Pola kehidupan lama oleh sebagian masyarakat ingin dipertahankan, sehingga menimbulkan permasalahan-permasalahan baru yang dihadapi oleh para sahabat, seperti timbulnya masalah-masalah hukum yang baru sifatnya sehingga mendorong para sahabat untuk menetapkan ketentuan hukum.

Berhadapan dengan pemikiran theologis dari agama Kristen yang sudah berkembang sebelum datangnya Islam, maka berkembang pula sistem pemikiran Islam. Timbul dalam Islam pemikiran yang bersifat theologis, yang kemudian dikenal dengan sebutan ilmu Kalam. Pada masa Nabi Muhammad SAW pemikiran belum banyak berkembang, karena segala permasalahan bisa ditanyakan lansung kepada beliau. Setelah beliau wafat dan umat Islam mengalami berbagai permasalahan baru, maka pemikiran-pemikiran tersebut mulai muncul dan berkembang[1].

Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam Sebelum Kebangkaitan Madarsah, diantaranya :
1.      Shuffah.
Pada masa Rasulullah Saw, shuffah adalah suatu tempat yang dipakai untuk aktifitas pendidikan. Biasanya tempat ini menyediakan pemondokan bagi mereka pendatang baru dan mereka yang tergolong miskin. Disini para siswa diajarkan membaca dan menghafal al Quran secara benar dan hukum Islam dibawah bimbingan lansung dari Nabi. Dalam perkembangan berikutnya, sekolah shuffah juga menawarkan pelajaran dasar dasar berhitung, kedokteran, astronomi, dan geologi[2].

2.      Al Kuttab/ Maktab
Alkuttab merupakan lembaga pendidikan Islam yang terlama, Alkuttab didirikan oleh orang Arab pada masa Abu Bakar, yaitu sesudah mereka melakukan penaklukan-penaklukan dan sesudah mereka mempunyai hubungan dengan bangsa-bangsa yang telah maju.
Menurut Asma Hasan Fahmi, dalam bukunya Sejarah dan filsafat Pendidikan Islam, al Kuttab didirikan oleh seorang Arab untuk mengajarkan al Quran pada anank-anak. Di masa Nabi Saw, karena perkembangan umat Islam yang semakin banyak belajar agama, termasuk anak-anak yang dikhawatirkan akan mengotori Masjid, maka muncullah lembaga di samping Masjid dengan sebutan al Kuttab.

Setelah Islam datang, bentuk dan fungsi Kuttab tidak mengalami perubahan. Pada awal Islam sampai pada era Khulafaur Rasyidin, secara umum dilakukan tanpa ada bayaran. Di antara penduduk Mekkah yang mula-mula belajar menulis huruf Arab di Kuttab adalah Sofyan bin Umayyah bin Abdul Syams dan Abu Qais bin Abdul Manaf bin Zuhroh bin Kilab. Keduanya belajar dari Basyr bin A. Malik yang mempelajarinya dari Hirah.

Sejak abad ke-8 M, kuttab mulai mengajarkan pengetahuan umum di samping ilmu agama Islam. Hal ini terjadi akibat perseteruan Islam dengan warisan budaya Helenisme sehingga banyak mengalami perubaahan dalam bidang kurikulum pendidikan Islam[3]. Alkuttab memegang peranan pentung dalam kehidupan Islam karena mengajarkan al Quran bagi anak-anak dianggap satu hal yang amat perlu, sehingga kebanyakan para ulama berpendapat mengajarkan al Quran bagi anak-anak semacam fardu kifayah. Disamping itu Nabi sendiri menyatakan bahwa belajar itu sangat perlu, sehingga beliau mewajibkan tiap-tiap tawanan perang badar untuk mengajarkan dua belas orang anak-anak orang muslim sebagai ganti tebusan perang[4].

Kepandaian tulis baca dalam kehidupan sosial dan politik umat Islam ternyata memegang peranan penting, sejak masa Nabi Muhammad Saw digunakan sebagai media komunikasi dakwah kepada bangsa-bangsa di luar bangsa Arab. Pada mulanya, di awal perkembangan Islam, Kuttab dilaksanakan di rumah guru-guru yang bersangkutan dan yang diajarkan adalah semata-mata menulis dan membaca, kemudian pada abad pertama hijriah mulai timbul jenis Kuttab, yang di samping memberikan pelajaran menulis dan membaca juga pokok-pokok ajaran agama[5].

3.      Halaqah
Halaqah artinya lingkaran, yaitu proses belajar-mengajar dilaksanakan dimana murid-murid melingkari gurunya. Seorang guru biasanya duduk lantai menerangkan, membacakan karangannya atau memberikan komentar atas karya pemikiran orang lain. Kegiatan halaqah ini bisa terjadi di Masjid atau di rumah-rumah[6]. Kegiatan halaqah ini tidak khusus untuk mengajarkan atau mendiskusikan ilmu agama tetapi juga ilmu pengetahuan umum, termasuk filsafat. Oleh karena itu, halaqah ini dikelompokkan kedalam lembaga pendidikan Islam yang terbuka ilmu pengetahuan umum[7].

4.      Majlis
Istilah majlis telah dipdakai dalam pendidikan sejak abad pertama Islam. Mulanya ia merujuk pada arti tempat-tempat pelaksanaan belajar-mengajar. Pada perkembangan berikutnya di saat dunia pendidikan Islam mengalami zaman keemasan, majlis berarti sesi dimana aktivis pengajaran[8] atau diskusi berlansung. Seiring berkembangnya pengetahuan dalam Islam, majlis digunakan sebagai transfer ilmu pengetahuan sehingga majlis banyak ragamnya.

5.      Masjid
Sejarah pendidikan Islam sangat erat kaitannya dengan Masjid, karena itu bila kita membicaarakan Masjid berarti kita membicarakan suatu tempat yang dipandang sebagai tempat yang asasi untuk mengajarkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam. Lingkaran-lingkaran pelajaran telah diadakan di Masjid semenjak Masjid didirikan dan keadaan itu berjalan terus sepangjang masa, dengan tidak putus-putusnya diseluruh negeri Islam[9].

Proses yang mengantar Masjid sebagai pusat dan pengetahuan adalah karena Masjid tempat awal pertama mempelajari ilmu agama yang baru lahir dan mengenal dasar-dasar, hukum-hukum dan tujuan-tujuannya. Semenjak didirikan Masjid di zaman Nabi Saw, Masjid telah menjadai pusat kegiatan dan informasi bebagai masalah kaum muslimin, baik yang menyangkut pendidikan maupun social ekonomi[10] Kurikulum pendidikan di Masjid biasanya merupakan tumpuan memperoleh pejabat-pejabat pemerintahan, seperti Qadhi, Khatib dan Imam Masjid. Melihat antara Masjid dan kekuasaan hal ini dapat dikatakan bahwa Masjid merupakan lembaga pendidikan formal[11].

6.      Rumah-rumah Para Ulama
Walaupun sebenarnya, rumah bukanlah tempat yang baik untuk memberikan pelajaran umum pada zaman kejayaan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam, banyak juga rumah-rumah para ulama dan ahli ilmu pengetahuan menjadi tempat belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Hal ini pada umumnya disebabkan para ulama dan ahli ilmu yang bersangkutan tidak mungkin memberikan pelajaran di Masjid, sedangkan para pelajar banyak yang berminat untuk mempelajari ilmu darinya[12].

Nabi Muhammad Saw menjadikan rumah Arqam bin abi Arqam sebagai tempat berkumpul para sahabat dalam menyampaikan wahyu yang diterima dari Allah swt melalui malaikat Jibril, ini membuktikan bahwa rumah merupakan lembaga pendidikan pertama dalam Islam[13].

7.      Toko-toko Buku dan Perpusakaan
Pada permulaaan Bani Abbasiyah, dimana ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam sudah tumbuh dan berkembang dan diikuti oleh penulisan kitab-kitab dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, maka berdirilah toko-toko kitab. Pada mulanya toko-toko buku tersebut berfungsi sebagai tempat berjual beli kitab-kitab yang tela ditulis dalam berbagai ilmu pengetahuan yang telah berkembang dimasa itu.

Kemudian toko-toko tersebut berkembang fungsinya bukan hanya sebagai tempat berjual beli kitab-kitab saja, tetapi juga merupakan tempat berkumpulnya para ulama, pujangga dan ahli ilmu pegetahuan lainnya, untuk berdiskusi, berdebat, bertukar fikiran dalam berbagai kajian Ilmiyah dan juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan dalam rangka pengembangan berbagai macam ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam[14].

Di samping toko buku, perpustakaan juga memiliki peranan penting dalam kegiatan transmisi keilmuan Islam. Perpustakaan-perpustakaan dalam dunia Islam pada masa jayanya, menjadi aspek budaya yang penting, sekaligus sebagai tempat belajar dan sumber pengemban ilmu pengetahuan[15].

8.      Rumah Sakit
Rumah Sakit pada zaman klasik bukan saja tempat merawat dan mengobati orang-orang yang sakit,tetapi juga mendidik tenaga-tenaga yang berhubungan dengan pengobatan dan perawatan. Pada masa itu, penelitian dan percobaan dalam bidang kedokteran dan obat-obatan juga dilaksanakan sehingga ilmu kedokteran dan obat-obatan berkembang cukup pesat[16].

Rumah Sakit juga merupakan tempat pratikum dari sekolah-sekolah kedokteran yang didirikan di luar rumah sakit, tetapi tidak jarang juga sekolah-sekolah kedokteran tersebut didirikan tidak terpisah dari rumah sakit. Dengan demikian ruah sakit dalam dunia Islam juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan[17].

9.      Badiah ( Padang Pasir, dusun tempat tinggal Badui )
Sejak berkembang luasnya Islam, bahasa Arab digunakan sebagai bahasa pengantar oleh bangsa-bangsa di luar bangsa Arab yang beragama Islam terutama di kota-kota yang banyak pencampuran dengan bahasa-bahasa lain, maka bahasa Arab berkembang luas, tetapi bahasa Arab cenderung kehilangan keaslian dan kemurniannya.

Oleh karen itu, badiah-badiah menjadi tempat pelajaran bahasa Arab yang asli dan murni. Sehingga banyak anak-anak Khalifah, Ulama-ulama, dan para Ahli Ilmu pengetahuan pergi ke badiah-badiah dalam rangka mempelajari ilmu bahasa dan kesastraan Arab. Dengan begitu, badiah-badiah telah berfungsi sebagai lembaga pendidikan[18].

A.    Pengaruh Helenisasi Terhadap Perkembangan Pemikiran Islam
Helenisasi merupakan suatu proses perubahan peradaban, dari peradaban Barat ke peradaban Islam. Masyarakat yang berada di bawah naungan Kristen yang cenderung menolak ilmu pengetahuan dan budaya berfikir atau filsafat dan bapak-bapak gereja Kristen menggunakan perbahasa untuk kebencian mereka pada pengetahuan “ ketidaktahuan adalah sumber kesalahan” atas anjuran bapak-bapak gereja perpustakaan di bumi hanguskan, sekolah filsafat ditutup, pengajar diusir dan melarang orang-orang membaca karya para pengarang Yunani dan Romawi Kuno.
Para ilmuwan dianggap kafir dan keluar dari agama Masehi, mereka dihina disiksa, dan dihukum dengan berbagai macam hukuman, para wali gereja dilanda pelanggaran moral yang menolak jabatan-jabatan gereja diperoleh dengan tipu daya, kemarahan hati, kelonggaran, jadi bangsa barat mengalami masa kegelapan akibat doktrin gereja.

Sebagian ilmuan itu lari diri ke Asia dan menetap di Syiria, Irak dan Jazirah Arab. Di sana para ilmuan itu bebas mengajarkan ilmu dan filsafat Yunani. Saat dunia Barat berada pada masa kegelapan terutama dalam bidang ilmu pengetahuan akibat dari doktrin gereja, dunia Islam sibuk melakukan pengkajian dan pengembangan ilmu pengetahuan yang begitu pesat sehingga melahirkan peradaban yang bernilai tinggi. Hal ini didorong dari segi internal berupa ajaran Islam yang sangat mendorong umatnya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Dimana wahyu pertama Nabi Muhammad adalah perintah Iqra’ yang menunjukkan bahwa ajaran Islam memberi perhatian yang besar terhadap ilmu pengetahuan. Dan didorong dari segi eksternal diperoleh melalui kekeuatan system pendidikan yang integral dan dinamis, serta dorongan dari para penguasa dengan menyediakan sarana-sarana yang dibutuhkan oleh para ilmuan dalam mengembangkan teori-teorinya bahkan menghargai temuan-temuan para ilmuan dengan harga yang sangat tinggi[19]. Dengan adanya helenisasi ini sangat menguntungkan bagi pendidikan Islam, adanya transfer ilmu pengetahuan memajukan umat Islam dari bangsa barat.

Kurikulum yang diajarkan pada lembaga pendidikan Islam pada periode awal hanyalah ilmu agama. Namun setelah adanya persentuan dengan peradaban helenisme, maka pelajaran yang ditawarkan tidak hanya ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan umum, seperti filsafat, matematika dan kedokteran. Atas dasar ini, lembaga pendidikan Islam diklasifikasikan menjadi dua, yaitu lembaga pendidikan formal dan lembaga pendidikan informal. Lembaga pendidikan yang informal biasanya menawarkan pelajaran umum sementara yang formal, tidak.

Di sini tampak bahwa ketika itu telah muncul pandangan dikotomi antara pengetahuan umum dan agama di lingkungan lembaga pendidikan Islam. Hal ini terjadi sebagai akibat perseteruan antara Islam dan peradaban helenisme. Pandangan dikotomi tersebut masih berlansung hingga sekarang. Padahal, Islam tidak mengenal adanya perbedaan antara ilmu agama dengan ilmu umum. Bahkan sebaliknya, puncak sejarah dan peradaban Islam justru terjadi ketika menyatunya pengetahuan agama dengan pengetahuan





























BAB  III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Keberadaan lembaga pendidikan Islam merupakan jawaban terhadap zaman, muncul, tumbuh, mengakar dari dalam masyarakat. Salah satunya adalah lembaga pendidikan Islam. Muncul setelah Allah memberikan amanah kepada Nabi Muhammad Saw di Gua Hira, ditandai dengan turunnya surat al Alaq ayat 1-5. Tuntutan wahyu pertama ini menghendaki manusia pada waktu itu harus melakukan proses pendidikan dan pembelajaran.
Instruksi Allah SWT tersebut dilaksanakan oleh Rasulullah Saw dengan mengumpulkan para sahabatnya di rumah Arqam bin Arqam sekaligus lansung bertindak sebagai Mudarris. Maka berlansunglah institusi lembaga pendidikan Islam pertama dalam Islam, kemudian dikembangkan dalam bentuk Kuttab Shuffah, Halaqah, Masjid, Perpustakaan, Majlis, Rumah-rumah Ulama, Rumah Sakit dan Badiah (Padang Pasir, dusun tempat tinggal Badui)

B.     Saran
Demikialah revisi makalah ini dibuat dengan sebagaimana mestinya, namun juga tidak terlepas dari saran dan kritikan yang membangun dari pemabaca yang budiman untuk penyempurnaan keilmiahan makalah  ini dimasa yang akan datang. Besar harapakan kami, semoga makalah ini bermamfaat bagi kita semua.  










DAFTAR PUSTAKA

Asrohah, Hanum, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta:Logos,1999
Fahmi, Asma Hasan, Sejarah Dan Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang,1979
http://azmi1803.wordpress.com/2009/03/05/20/
Nata, Abuddin, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Rajawali press, 2004
Nizar, Samsul, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana,2007
Salabi, Ahmad, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintag, 1973
Zuharaini,dkk, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara,1997



[1] Zuhairi dkk, Sejarah Pendidikan Islam Bumi Aksara, 1996, h, 107
[2] Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, Rajawali Press. h, 31-32
[3] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, Kencana Prenada Media Group. h, 113-114
[4] Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, Bulan Bintang. h, 30
[5] Zuharaini dkk, Sejarah Pendidikan Islam, bumi aksara. h, 90
[6] Harun Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta, Logos,1999. h, 49
[7] Abuddin nata, Sejarah Pendidikan Islam, Rajawali Press, 2004. h, 34-35
[8] Opcit. h,51
[9] Ahmad Salabi, Sejarah Pendidikan Islam, Bulan Bintang. h, 92
[10] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, Kencana Prenada Media Group. h, 116-117
[11] Harun Asrohah,Sejarah Pendidikan Isalm, Jakarta, Logos. h, 59
[12] Zuharaini dkk, Sejarah Pendidikan Islam, Bumi Aksara, 1997. h, 95
[13] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, Kencana Prenada Media Group. h, 111
[14] Ibid. h, 94
[15] Abuddin Nata, Sejarah Penndidikan Islam, Rajawali Press. h, 41
[16] Ibid. h, 41
[17] Zuharaini dkk, Sejarah Pendidikan Islam. Bumi Akssara. h, 98.
[18] Ibid. h, 96-97
[19] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, Kencana

0 komentar:

Post a Comment

 
ALL STAR © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top